Sedikit Kisah Tentang Ciung Wanara


Ciung Wanara adalah legenda di kalangan orang Sunda di Indonesia. Cerita rakyat ini menceritakan legenda Kerajaan Sunda Galuh, asal muasal nama Sungai Pamali serta menggambarkan hubungan budaya antara orang Sunda dan Jawa yang tinggal di bagian barat provinsi Jawa Tengah.Cerita ini berasal dari tradisi cerita lisan Sunda yang disebut Pantun Sunda, yang kemudian dituliskan ke dalam buku yang ditulis oleh beberapa penulis Sunda, baik dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. 

Berikut di bawah ini adalah sedikit cerita tentang ciung wanara,kenapa saya tulis sedikit saja?karena cerita-cerita seperti ini memang sangatlah panjang sehingga tidak mungkin saya tuliskan semua di sini.Oke kita langsung saja ke tekape.



Berawal dari desa Geger Sunten, tepian sungai Citanduy, hiduplah sepasang suami istri tua yang biasa memasang bubu keramba perangkap ikan yang terbuat dari bambu di sungai untuk menangkap ikan. Suatu pagi mereka pergi ke sungai untuk mengambil ikan yang terperangkap di dalam bubu, dan sangat terkejut bukannya menemukan ikan melainkan keranjang yang tersangkut pada bubu tersebut. 

Setelah membukanya, mereka menemukan bayi yang menggemaskan. Mereka membawa pulang bayi tersebut, merawatnya dan menyayanginya seperti anak mereka sendiri.Dengan berlalunya waktu bayi tumbuh menjadi seorang pemuda rupawan yang menemani berburu orang tua dalam hutan. Suatu hari mereka melihat seekor burung dan monyet.

"Burung dan monyet apakah itu, Ayah?"
"Burung itu disebut Ciung dan monyet itu adalah Wanara, anakku."
"Kalau begitu, panggillah aku Ciung Wanara."

Orang tua itu menyetujui karena arti kedua kata tersebut cocok dengan karakter anak itu.

Suatu hari ia bertanya pada orang tuanya mengapa dia berbeda dengan anak laki-laki lain dari desa tersebut dan mengapa mereka sangat menghormatinya. Kemudian orang tua itu mengatakan kepadanya bahwa ia telah terbawa arus sungai ke desat tersebut dalam sebuah keranjang dan bukan anak dari desa tersebut.

"Orangtuamu pasti bangsawan dari Galuh."
"Kalau begitu, aku harus pergi ke sana di mencari orang tua kandungku, Ayah."
"Itu benar, tetapi kamu harus pergi dengan seorang teman. Di keranjang itu ada telur. Ambillah, pergilah ke hutan dan carilah unggas untuk menetaskan telur itu."

Ciung Wanara mengambil telur itu, pergi ke hutan seperti yang diperintahkan oleh sang orang tua, tetapi ia tidak dapat menemukan unggas. Ia menemukan Nagawiru yang baik kepada dia dan yang menawarkan dia untuk menetas telur. Dia meletakkan telur di bawah naga itu dan taklama setelah menetas, anak ayam tumbuh dengan cepat. Ciung Wanara memasukkannya ke dalam keranjang, meninggalkan orang tua dan istrinya dan memulai perjalanannya ke Galuh.

Di ibukota Galuh, sabung ayam adalah sebuah acara olahraga besar, baik raja dan rakyatnya menyukainya. Raja Barma Wijaya memiliki ayam jago yang besar dan tak terkalahkan bernama Si Jeling. Dalam kesombongannya, ia menyatakan bahwa ia akan mengabulkan keinginan apapun kepada pemilik ayam yang bisa mengalahkan ayam juaranya.

Saat tiba, anak ayam Ciung Wanara sudah tumbuh menjadi ayam petarung yang kuat. Sementara Ciung Wanara sedang mencari pemilik keranjang, ia ikut ambil bagian dalam turnamen adu ayam kerajaan. Ayamnya tidak pernah kalah. Kabar tentang anak muda yang ayam jantannya selalu menang di sabung ayam akhirnya mencapai telinga Prabu Barma Wijaya yang kemudian memerintahkan Uwa Batara lengser untuk menemukan pemuda itu. 

Orang tua itu segera menyadari bahwa pemuda pemilik ayam itu adalah putra Dewi Naganingrum yang telah lama hilang, terutama ketika Ciung Wanara menunjukkan padanya keranjang di mana ia telah dihanyutkan ke sungai. Uwa Batara Lengser mengatakan pada Ciung Wanara bahwa raja telah memerintahkan hal tersebut selain menuduh ibunya telah melahirkan seekor anjing.

"Jika ayam kamu menang melawan ayam raja, mintalah saja kepadanya setengah dari kerajaan sebagai hadiah kemenangan kamu."

Keesokan paginya Ciung Wanara muncul di depan Prabu Barma Wijaya dan menceritakan apa yang telah diusulkan Lengser. Raja setuju karena dia yakin akan kemenangan ayam jantannya yang disebut Si Jeling. Si Jeling sedikit lebih besar dari ayam jago Ciung Wanara, namun ayam Ciung Wanara lebih kuat karena dierami oleh naga Nagawiru. Dalam pertarungan berdarah ini, ayam sang Raja kehilangan nyawanya dalam pertarungan dan raja terpaksa memenuhi janjinya untuk memberikan Ciung Wanara setengah dari kerajaannya.

source : http://id.wikipedia.org/wiki/Ciung_Wanara

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Sedikit Kisah Tentang Ciung Wanara
Ditulis Oleh Hary Muhlia
DILARANG KERAS Copy Paste 100% artikel ini!!! Artikel ini dilindungi dengan setifikat DMCA.com Protection Status Protected, silahkan edit minimal 60% adalah hasil narasi anda sendiri dan jangan lupa sertakan link yang menuju ke artikel Sedikit Kisah Tentang Ciung Wanara ini sebagai sumbernya. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya

Bagikan ke

Iklan Anda
Berkomentar dengan
atau
silahkan tentukan pilihan sobat!

39 komentar:

  1. wah mantep nih artikelnya, jadi tau apa itu ciung wanara.. gak cuman tau judulnya aja.. makasih sob!

    BalasHapus
    Balasan
    1. y gitu lah sob,,,oke makasih jg knjungannya

      Hapus
    2. ikutan berkunjung sob :)

      Hapus
  2. ajib niih pagi2 uda baca dongeng, eh tapi kok ceritanya mirip cindelaras ya sob?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmm,,,kurang tau ya,udh pernah dnger sih cerita tntang cindelaras,tp lupa lagi seperti apa ceritanya..

      Hapus
  3. pernah dengar juga.. tapi alur ceritta belum tau benar :D .

    BalasHapus
    Balasan
    1. hee,,,untuk lebih lengkapnya kunjungi wikipedia,di jamin lengkaapp,, :D

      Hapus
  4. baru denger nih, Kisah Tentang Ciung Wanara, makasih ni sharenya buat nambah pengetahuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2,,makasih jg knjungannya,,

      Hapus
  5. .. aq baru tau cerita beginian. he..86x ..

    BalasHapus
  6. ciung wanara tamannya ada ya kang,kalau nggak salah di banjar,saya sering lewat sana,kalau saya mau ke jateng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya kang,,itu situs karangkamulya kalau dari ciamis ad di sebelah kanan..

      Hapus
  7. wah.. kok saya baru dengar ya nama ini sobat.. wah kurang wawasan nih saya sob.. makasih nih dah berbagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. oke mas,,makasih juga dh mo mampir..

      Hapus
  8. ciun wanara... blm tau mau komen apaan,

    bang, ini tombol follownya dimana ya? kok g ada si

    BalasHapus
    Balasan
    1. maksdnya follow blog ''join this site'' sob..??tombol followernya ada di sidebare sebelah kanan blog ini

      Hapus
  9. cerita dan budaya tutur tinular tidak boleh putus mas, ini langkah baik untuk melestarikan cerita daerahnya mas.
    kerjaan galuh itu sama dengan galuh pakuan apa nggak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener ,,,harus di lestarikan,tp sy sendiri juga belum bisa berbuat apa2 kang..
      kalau pertanyaan tentang apakah galuh sama dengan galuh pakuan?yg pasti penjelasannya sangat panjang dan lebar,tp intinya setau saya galuh pakuan itu adalah bergabungnya 2 kerajaan yaitu antara kerajaan galuh dengan kerajaan pajajaran,kalau pakuan itu nama ibu kota pajajaran sekarang bogor,sedangkan ibu kota Kerajaan Galuh adalah kota Kawali sekarang berada di Kabupaten Ciamis,jadi kalau di gabungkan menjadi galuh pakuan,kalau jaman sekarang mungkin menjadi ciamis bogor,,

      ''buat sobat semua,jika ad yg salah dengan penjelasan sy di atas,silahkan di ralat,karena saya sendiri masih belajar.terimakasih''

      Hapus
  10. Kalau ciung wanara kan bahasa sunda Mas,kalau untuk bahasa Indonesianya apa Mas? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau ciung dan wanara itu hanya sebutan untuk burung dan gorilla sob

      Hapus
  11. siang-siang dapat kisah kayak gini..

    ajib-ajib haha

    BalasHapus
  12. keren bang ceritanya bagus met ngblog aja bang

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mas, knjungannya,,
      happy blogging juga genk... :D

      Hapus
  13. Tengah malam baca cerita genean mantap..
    lanjut

    BalasHapus
  14. Saya pilih baca yang ini...., memang hobbi baca cerita-cerita rakyat
    Sip banget Mas Hary.....
    Salam sehat, n sukses ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin,,,makasih kang doanya,,
      sukses juga buat kang harun

      Hapus
  15. Ada ga ya ayam keturunan punya ciung wanara....

    BalasHapus
  16. Pengen banget ke ciug warna. Sering denger ceritanya yang keren.

    BalasHapus
  17. mantap infonya gan menarik sekali
    artikelnya pun keren serta menambah wawasan
    terima kasih banyak,sukses terus

    BalasHapus

1.Jangan lupa koment yah kawan,untuk mempererat silaturahim.
2.Komentar Tanpa Moderasi. Yang mau pasang Link,gunakan NAME/URL atau Open ID.
3.Silahkan kawan becanda,asal dengan etika.
4.Terimakasih kunjungan dan komentarnya kawan,Mohon maaf jika belum bisa berkunjung balik
5.Tetap tersenyum meskipun sedih.

© 2013 Harysukasuka - All Rights Reserved | Disclaimer | Privacy Policy
Template by IdleCreative
Back to Top